Wednesday, 2 May 2012
Sidik Jari
Tapak kaki dan telapak tangan ditutupi dengan jenis kulit tertentu yang mempunyai pola garis ang rumit. Garis papiler atau garis permukaan ini berasal dari pengangkatan papillae secara mikroskopik yang ada pada lapisan kulit dalam. Kulit telapak tidak berkelenjar minyak, tetapi memiliki konsentrasi tinggi kelenjar keringat. Keadaan ini berpengaruh pada komposisi pengeluaran keringat ada telapak yang merupakan faktor penting bagi penguji forensik dalam teknik deteksi sidik jari.
Kesan yang ditinggalkan ketika kulit permukaan jari atau ibu jari ditekankan pada suatu benda itulah yang disebut sidik jari. Kesan tinta pada sidik jari dihasilkan oleh zat semacam tinta yang tersimpan pada kulit permukaan jari-jemari. Kesan peristiwa tindak pidana dibuat melalui keringat atau adanya zat pencemar. Sidik jari itu biasanya tidak terlihat mata telanjang sehingga disebut sidik laten. Sidik jari menjadi cara paling teliti sebagai bagian dari identifikasi karena memiliki tiga ciri, yaitu:
1. Sidik jari bersifat unik. Kemungkinan adanya dua pola sidik jari yang identik pada anggota populasi dunia termasuk jari yang berbeda dari tangan seseorang dan bahkan jari yang sama dari orang kembar sangat kecil sekali. Keunikan ini didukung dengan perbandingan jutaan sidik jari selama 80 tahun terakhir dan berdasarkan perhitungan statistik.
2. Sidik jari bersifat tidak varian. Kecuali perubahan ukuran besarnya yang mengikuti pertumbuhan individu, rincian pola sidik jari tidak berubah sepanjang hidup seseorang. Luka-luka hanya meninggalkan bekas luka permanen jika sampai masuk jaringan kulit dalam. Bekas luka permanen dapat digunakan juga untuk identifikasi. Pola garis pada telapak tangan dan tapak kaki juga dapat berfungsi untuk identifikasi.
3. Tipe pola umum memungkinkan sidik jari diklasifikasikan secara sistematis. Hal ini memungkinkan untuk menyusun arsip yang dapat digunakan untuk menunjang identifikasi.
Fingerprint Identification and Classification (Identifikasi dan Klasifikasi Sidik Jari)
Guratan kulit permukaan jari membentuk pola yang dapat dikelompokkan menjadi bagian yang melengkung, sangkutan, dan lingkaran. Pola ini tidak digunakan untuk identifikasi, kecuali dalam penghapusan segera bila sidik laten yang diolah berbeda dari jenis pola tersangka. Identifikasi sidik jari tergantung pada karakteristik garis punggung tangan seseorang, penempatan sanak keluarga, dan apakah ciri pembedanya dapat dijelaskan. Karakteristik garis yang paling umum adalah ujung garis dan bifurkasi (garis bercabang dua seperti sungai yang bercabang menjadi dua anak sungai). Karakteristik umum lainnya adalah punggung bukit jari yang pendek, lampiran (atau pengelompokan), dan noktah.
Pola sidik jari dibagi menjadi bagian yang melengkung, sangkutan, dan lingkar tergantung pada tidak adanya delta, satu atau dua delta, jika delta itu tidak menyatu (bergabung) dengan inti sidik jari. Bentuk delta merupakan bifurkasi tempat dua garis cabang saling menjauh dan bukannya sejajar atau sepasang garis lekat yang memisah. Bentuk sangkutan memiliki satu garis atau lebih yang melengkung balik, yaitu bagian garis permulaan dan bagian akhir berkedudukan sejajar. Bentuk busur tidak berlengkung balik.
Aliran garis tampak seperti gelombang. Bentuk bagian yang melengkung dibagi lagi menjadi busur rata (plain arch) dan busur miring (tented arch). Busur rata mempunyai sedikitnya satu garis yang membentuk sirkuit seperti spiral penuh atau setidaknya ada satu garis yang menandai bentuk lonjong penuh atau varian lingkaran lainnya. Corak tambahan yang diklasifikasikan dalam bentuk lingkar adalah lingkar sangkutan ganda (double loop whorl), lingkar sangkutan saku tengah (central pocket loop whorl), dan lingkar istimewa (accidental whorl).
Sistem klasifikasi sidik jari pada dasarnya merupakan perkembangan dari sistem yang dikembangkan oleh Sir Edward Richard Henry dan diadopsi pertama kali oleh Scotland Yard di London pada 1901. Rencana penggolongan sidik jari merupakan hal yang rumit. Hal ini selintas dapat terlihat pada penggolongan utama yang merupakan bagian dari sistem asli yang digunakan Henry. Sistem itu, pada gilirannya, dikembangkan untuk menampung arsip sidik jari yang luar biasa banyaknya pada masa sekarang. Dalam pengelompokan utama, jari dipasangkan dan dijumlahkan dalam bentuk rasio,
jari telunjuk kanan + jari manis kanan + ibu jari kiri + jari tengah kiri+ jari kelingking kiri
ibu jari kanan + jari tengah kanan + jari kelingking kanan + jari telunjuk kiri + jari manis kiri
Pola sidik jari yang paling penting pada langkah ini adalah tipe lingkar. Tipe ini ditetapkan dengan nilai bilangan 16 jika ditemukan pada jari pasangan paling kiri dalam rasio di atas (jari telunjuk kanan, ibu jari kanan), 8 jika pada jari pasangan berikutnya, 4 untuk jari pasangan ketiga, 2 untuk jari pada pasangan keempat, dan 1 untuk jari pada pasangan terakhir (kelingking kiri, jari manis kiri). Semua pola sidik jari lainnya ditetapkan dengan nilai 0. Untuk menjumlahkan hasilnya, nilai 1 ditambahkan pada pembilang dan penyebut dalam rasio di atas. Pecahan bilangan yang didapatkan merupakan klasifikasi primer. Misalnya bila kedua ibu jari dipenuhi pola lingkar dan jari lain berpola busur dan sangkutan, klasifikasi primernya adalah F(5/17). Menurut klasifikasi primer, peluang kombinasi pola untuk 10 jari tangan membentuk 1.024 golongan.
Latent Fingerprint Development (Pengembangan Sidik Jari Laten)
Penemuan sidik jari laten pada barang bukti merupakan salah satu aspek yang paling penting dalam identifikasi tindak pidana, karena secara umum sidik jari merupakan bukti fisik yang paling kuat yang dapat dipaparkan di pengadilan. Penemuan sidik jari laten ini umumnya tergantung pada penyertaan bahan pada deposit sidik jari (keringat) laten atau pada reaksi kimia dengan sisa sidik jari laten. Lapisan tipe sidik jari terdiri atas 98%”99% air yang segera menguap meninggalkan kira-kira 10-6 g residu yang hampir setara dengan komposisi komponen inorganik (seperti garam) dan organik (misalnya asam amino). Yang menjadi masalah besar dalam deteksi residu ini adalah kerumitan kimianya serta amat beragamnya tekstur dan komposisi permukaan yang dibutuhkan untuk mendeteksi sidik laten.
Dari sekian banyak cara kimia dan fisika untuk olah sidik jari, hanya cara pendebuan (penempelan secara fisik bubuk halus pada residu sidik jari) dan perlakuan ninhydrin (reaksi ninhydrin dengan asam amino residu sidik jari untuk membentuk produk bercitra biru lembayung) yang masih digunakan sampai saat ini. Prosedur lain, seperti pengasapan dengan uap yodium atau cara nitrat perak digunakan hanya dalam situasi tertentu.
Metode yang lebih spesifik, seperti pembubuhan dengan bahan radioaktif, dan metode yang lebih berorientasi instrumental, sebagaimana deposisi lapisan logam dalam ruang hampa, otoradiografi (metode sinar X), dan aktivasi netron, juga telah diselidiki. Metode ini jarang digunakan dalam tindakan polisi karena penerapan yang sangat terbatas, mahal, dan terlalu rumit. Prosedur yang dikembangkan di Jepang pada akhir tahun 1970-an, yakni dengan menggunakan uap methyl atau ethyl-cyanoacrilate ester. Senyawa itu berubah menjadi polimer pada residu sidik jari laten untuk membentuk produk putih. Prosedur ini kini banyak dimanfaatkan untuk olah sidik jari pada permukaan yang licin.
Pada tahun 1976, ditemukan bahwa laser dapat difungsikan untuk penemuan sidik jari laten. Metode umum ini merupakan konsep yang revolusioner yang menggunakan prinsip fisika yang berbeda (fluorescence) dari metode yang biasa digunakan, karena dapat menghasilkan sensitifitas yang paling tinggi. Untuk menjelaskan hal ini, perhatikanlah sidik laten pada permukaan putih yang dibubuhi dengan bubuk hitam. Cahaya berpendar terkilas dari permukaan di sekitar garis hingga tertangkap mata atau kamera fotografik, tetapi peristiwa ini tidak berasal dari garis itu sendiri karena bubuk pada garis itu menyerap cahaya.
Penyerapan/pemantulan kemudian menjadi persoalan pokok dalam pengembangan sidik jari konvensional. Jika sidik itu berkembang dengan lemah, lokasi garis sidik jari itu hanya akan memantulkan sedikit dibandingkan daerah sekelilingnya. Penemuan sidik yang lemah karena itu akan menghasilkan penemuan perbedaan kecil antara dua tanda besar yang bersumber dari cahaya pendar yang dipantulkan, dan ini merupakan cara penemuan yang tidak sensitif. Dalam situasi sebaliknya, ketika hanya cahaya dari garis yang mencapai kamera atau mata, deteksi sidik jari yang lemah akan berarti tindakan pendeteksian sinyal kecil.
Cara deteksi ini merupakan cara deteksi yang lebih sensitif seperti yang diamati oleh mata kita: orang tidak melihat bintang pada siang hari (perbedaan kecil antara sinyal yang besar), tetapi dengan mudah melihatnya pada malam hari (sinyal kecil). Deteksi sidik jari lewat fluorescence dari sidik jari laten yang merupakan inti metode laser sesuai dengan cara deteksi sinyal pada gejala penglihatan kedua. Metode laser meliputi beragam prosedur antara lain perlakuan ninhydrin/ZnCl2 dan cyanoacrylate ester/bahan celup yang mempunyai tingkat keberhasilan tinggi karena tingkat sensitivitasnya, mudah digunakan, dapat diterapkan secara luas, dan yang sangat penting kompatibilitasnya dengan prosedur rutin biasa. Metode laser kini secara rutin digunakan oleh banyak badan penegak hukum.
Digital Fingerprint Processing (Pengolahan Sidik Jari Digital)
Arsip kartu sidik jari sangat sulit dicari. Selain itu, sangat tidak mungkin untuk mencari arsip yang dimaksud untuk mencocokkan sidik jari yang tersembunyi yang diolah pada barang bukti kecuali tersangkanya telah dikenali. Beberapa tahun terakhir ini, komputer telah banyak digunakan dalam pembuatan arsip sidik jari dan pencarian motif. Sidik jari dimasukkan ke dalam komputer dengan bentuk digital. Untuk melakukannya, seseorang tidak dapat begitu saja menggukur jarak dan sudut antara garis karakteristik.
Hal ini dikarenakan kondisi tekanan di mana terdapat lapisan cetak bergelombang dan cetakan peristiwa tindak pidana tersimpan berbeda secara substansial. Kemudian dilakukan pendekatan yang lebih rinci untuk mendigitalkan sidik jari. Sebagai contoh, letak dari minutia dan garis terdekat dari alur garis yang berkaitan yang dikombinasikan dengan banyaknya garis yang masuk antara minutia ini dan dan minutia lainnya yang berdekatan. Sidik jadi didigitalkan secara otomatis dengan menggunakan scanner elektronik. Dengan penemuan komputerisasi dalam sidik jari, pencarian tanpa jejak, pengembangan penemuan cetakan peristiwa tanpa diketahui tersangkas, menjadi kenyataan.
Wilayah penting di masa mendatang dalam pengolahan sidik jari berkaitan dengan aspek perekaman gambar (oleh kamera TV sebagai contoh) disertai dengan teknik peningkatan gambar komputer seperti modifikasi pewarnaan, manipulasi kontras, peningkatan kualitas tepi. Prosedur tersebut dibuat untuk meningkatkan kontras antara rincian garis alur sidik jari dan juga latar yang sering tidak seragam. Lagipula, peneliti sedang mempelajari perbedaan yang ditemukan antara sidik jari dan latar belakang fluorescence. Hasil ini akan memberikan alternatif lain untuk meningkatkan kekontrasan secara elektronis untuk pengidentifikasian yang sempurna.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment