ping fast  my blog, website, or RSS feed for Free Catatan Brutal: June 2013

Sunday, 30 June 2013

Riwayat Hidup Part I


           *keluar dari harapan para korban PHP*  Hai... Namaku Mahaishis Kusuma.
Namanya emang agak ribet, banyak orang yang salah kalo nulis namaku. Huruf “H” setelah “Mahais” pasti digondol mereka. Mungkin huruf “H” itu bagi mereka  sama pentingnya dengan huruf “H” pada “BeHa”.
            Tapi dari sekian banyak kesalahan penulisan namaku, pernah suatu saat terjadi kesalahan penulisan yang sangat krusial. Kejadiannya gini... Nggak usah diceritain lah ya... panjang soalnya.*dilempar sendal*
            Aku lahir dari keluarga yang sederhana, tidak terlalu miskin dan tidak terlalu kaya, tidak terlalu bahagia juga sebenarnya.
Tapi kebahagiaan itu relatif.
Aku dan adikku Nada bisa lahir di NKRI ini berkat perjuangan dari (Alm) Sugiyono dan Sugiyarti. Ayah dan Ibuku mungkin memang berjodoh. Terlihat dari namanya yang mirip. Tapi kelaminnya beda lho ya...
Dracik, adalah sebuah wilayah di Kabuaten Batang tempat dimana aku tinggal, dan aku mungkin dibuatnya disitu juga. Kabupaten Batang memang terdengar asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Mereka lebih mengenal “Alas Roban” dari pada Kabupaten Batang itu sendiri. Padahal Kabupaten kecil ini sudah menyabet beberapa prestasi tingkat nasional, salah satu yang sangat membanggakan adalah piala Adipura yang baru saja didapat, dengan kategori kabupaten / kota kecil. Dracik memang sudah sanggat berbeda dari saat aku masih kecil sampai sekarang. Dulu aku mau keluar rumah aja kudu mikir 20x. Iya sih... dulu kan aku masih umur 4 tahun.
            Sekarang aku mau ceritain masa-masa sekolah, dari TK sampe sekarang.
            TK... Dulu zaman TK aku masih terlalu kecil untuk mengingat, soalnya aku masuk TK saat umurku belum genap 5 tahun.
Yang aku ingat saat duduk di bangku Taman Kanak-kanak itu cuma hal-hal yang sebenarnya nggak layak untuk diingat. Ini adalah masalah yang sangat memalukan tapi wajar pada saatnya, yaitu “ee’ di celana”. Tapi aku tidak hanya ee’ di celana saja, aku juga pernah pipis di celana.
Bahkan pernah suatu ketika saat aku disuruh memperkenalkan diri didepan kelas, aku malah buka celana dan liatin tititku ke temen-temen sekelas.
Untungnya temen-temen sekelas tidak  merasakan kebodohanku sampai 2 tahun. Karena belum ada setahun aku bermain di Taman Kanak-kanak, aku langsung minta di pindah ke Sekolah Dasar. Bukannya aku ikut kelas akselerasi. Tapi dulu siswa tidak harus berumur 7 tahun untuk belajar di Sekolah Dasar seperti sekarang. Dan anehnya lagi para guru di TK langsung melulusakan aku dengan mudahnya. Mungkinkah mereka langsung mengadakan pesta setelah kepergianku? Yah.... Hanya Tuhan dan mereka yang tahu.
Anak umur 5 tahun belajar di bangku Sekolah Dasar... Bisa bayangin nggak sih? ABB. Anak Baru Balita udah mendapatkan title Pelajar. Butuh kesabaran ekstar untuk menghadapi ABB. Enaknya SD itu bisa punya banyak temen, tapi bosen juga sih... 6 tahun temennya itu-itu aja. Di Sekolah Dasar aku belajar banyak hal, aku sudah tidak ee’ dan pipis lagi di celana. Mahaishis Kusuma yang di TK dikenal dengan biasa ee’ dicelana, sudah mulai hilang ditelan pacar #IfYouKnowWhatIMean.
Sebenarnya saat aku duduk di bangku Sekolah Dasar tidak ada yang sepesial dan membekas di ingatan. Saat itu aku nggak bisa macem-macem, soalnya gurunya ibuku sendiri. Mau nakal dikit langsung ketauan ditempat. Di SD aku merasa dikekang. Tapi ada baiknya juga sih, berkat itu kebiasaan burukku di TK sudah hilang.
Enam tahun sudah aku belajar di bangku Sekolah Dasar. Aku lulus dengan nilai yang “cukup” memuaskan. Iya, aku yang puas tapi kedua orang tuaku tidak puas. Yah... namanya juga orang tua, pasti berharap lebih dari anaknya.
Setelah lulusan SD aku nggak santai-santai kayak temen-temen kebanyakan. Karena otakku pas-pasan aku belajar tiga kali lebih giat dari sebelumnya. Tekadku sudah sebulat badanku. Aku nggak mau mengulang kejadian yang sama seperti pada ujian SD-ku. Saat ujian SD aku memang tidak belajar sama sekali. Dan kali ini aku belajar tiga kalinya. 0 x 3 = 0.
            Datanglah hari perjuangan!! Hari pertama tes lancar bagai kentut di pagi hari. Begitu juga hari kedua. Tesnya selesai, dan ada waktu sekitar satu minggu untuk menunggu hasilnya. Dalma seminggu itu perasaanku nggak karuan. Rasanya kayak nunggu jawaban dari gebetan, mau nggak dia jadi pacaran.
            Satu minggu berlalu.
            Dang dut... dang.. dut...
Jantungku sampai bisa buat goyang, keringatku bercucuran. Pernah ngajak gebetan jalan untuk pertama kali? Itu yang aku rasakan saat memasuki sekolah tempatku mendaftar. Sebenarnya aku nggak begitu yakin dengan hasilnya.
            Jeng jeng..... Alhamdulillah, aku diterima di SMP itu. Pulang kerumah aku langsung teriak “EMAAAAK.... ANAKMU INI DITERIMA MAAAAAK...” *salto lima kali* *cipokin followers cewe satu2*
            Certiaku disaat duduk di Sekolah Menengah Pertama akan lebih seru dan banyak kenangan. Jadi, ikuti terus di posting berikutnya ya.
Eh, kok udah kayak sinetron-sinetron yang nggak ada habisnya itu ya...