*keluar
dari harapan para korban PHP* Hai...
Namaku Mahaishis Kusuma.
Namanya
emang agak ribet, banyak orang yang salah kalo nulis namaku. Huruf “H” setelah
“Mahais” pasti digondol mereka. Mungkin huruf “H” itu bagi mereka sama pentingnya dengan huruf “H” pada “BeHa”.
Tapi
dari sekian banyak kesalahan penulisan namaku, pernah suatu saat terjadi kesalahan
penulisan yang sangat krusial. Kejadiannya gini... Nggak usah diceritain lah
ya... panjang soalnya.*dilempar sendal*
Aku lahir dari keluarga yang
sederhana, tidak terlalu miskin dan tidak terlalu kaya, tidak terlalu bahagia
juga sebenarnya.
Tapi
kebahagiaan itu relatif.
Aku
dan adikku Nada bisa lahir di NKRI ini berkat perjuangan dari (Alm) Sugiyono
dan Sugiyarti. Ayah dan Ibuku mungkin memang berjodoh. Terlihat dari namanya
yang mirip. Tapi kelaminnya beda lho ya...
Dracik,
adalah sebuah wilayah di Kabuaten Batang tempat dimana aku tinggal, dan aku
mungkin dibuatnya disitu juga. Kabupaten Batang memang terdengar asing bagi
sebagian besar masyarakat Indonesia. Mereka lebih mengenal “Alas Roban” dari
pada Kabupaten Batang itu sendiri. Padahal Kabupaten kecil ini sudah menyabet
beberapa prestasi tingkat nasional, salah satu yang sangat membanggakan adalah
piala Adipura yang baru saja didapat, dengan kategori kabupaten / kota kecil. Dracik
memang sudah sanggat berbeda dari saat aku masih kecil sampai sekarang. Dulu
aku mau keluar rumah aja kudu mikir 20x. Iya sih... dulu kan aku masih umur 4
tahun.
Sekarang aku mau ceritain masa-masa
sekolah, dari TK sampe sekarang.
TK... Dulu zaman TK aku masih
terlalu kecil untuk mengingat, soalnya aku masuk TK saat umurku belum genap 5
tahun.
Yang
aku ingat saat duduk di bangku Taman Kanak-kanak itu cuma hal-hal yang
sebenarnya nggak layak untuk diingat. Ini adalah masalah yang sangat memalukan
tapi wajar pada saatnya, yaitu “ee’ di celana”. Tapi aku tidak hanya ee’ di
celana saja, aku juga pernah pipis di celana.
Bahkan
pernah suatu ketika saat aku disuruh memperkenalkan diri didepan kelas, aku
malah buka celana dan liatin tititku ke temen-temen sekelas.
Untungnya
temen-temen sekelas tidak merasakan
kebodohanku sampai 2 tahun. Karena belum ada setahun aku bermain di Taman
Kanak-kanak, aku langsung minta di pindah ke Sekolah Dasar. Bukannya aku ikut
kelas akselerasi. Tapi dulu siswa tidak harus berumur 7 tahun untuk belajar di
Sekolah Dasar seperti sekarang. Dan anehnya lagi para guru di TK langsung
melulusakan aku dengan mudahnya. Mungkinkah mereka langsung mengadakan pesta
setelah kepergianku? Yah.... Hanya Tuhan dan mereka yang tahu.
Anak
umur 5 tahun belajar di bangku Sekolah Dasar... Bisa bayangin nggak sih? ABB.
Anak Baru Balita udah mendapatkan title Pelajar. Butuh kesabaran ekstar untuk
menghadapi ABB. Enaknya SD itu bisa punya banyak temen, tapi bosen juga sih...
6 tahun temennya itu-itu aja. Di Sekolah Dasar aku belajar banyak hal, aku
sudah tidak ee’ dan pipis lagi di celana. Mahaishis Kusuma yang di TK dikenal
dengan biasa ee’ dicelana, sudah mulai hilang ditelan pacar #IfYouKnowWhatIMean.
Sebenarnya
saat aku duduk di bangku Sekolah Dasar tidak ada yang sepesial dan membekas di
ingatan. Saat itu aku nggak bisa macem-macem, soalnya gurunya ibuku sendiri.
Mau nakal dikit langsung ketauan ditempat. Di SD aku merasa dikekang. Tapi ada
baiknya juga sih, berkat itu kebiasaan burukku di TK sudah hilang.
Enam
tahun sudah aku belajar di bangku Sekolah Dasar. Aku lulus dengan nilai yang
“cukup” memuaskan. Iya, aku yang puas tapi kedua orang tuaku tidak puas. Yah...
namanya juga orang tua, pasti berharap lebih dari anaknya.
Setelah
lulusan SD aku nggak santai-santai kayak temen-temen kebanyakan. Karena otakku
pas-pasan aku belajar tiga kali lebih giat dari sebelumnya. Tekadku sudah
sebulat badanku. Aku nggak mau mengulang kejadian yang sama seperti pada ujian
SD-ku. Saat ujian SD aku memang tidak belajar sama sekali. Dan kali ini aku
belajar tiga kalinya. 0 x 3 = 0.
Datanglah hari perjuangan!! Hari
pertama tes lancar bagai kentut di pagi hari. Begitu juga hari kedua. Tesnya
selesai, dan ada waktu sekitar satu minggu untuk menunggu hasilnya. Dalma
seminggu itu perasaanku nggak karuan. Rasanya kayak nunggu jawaban dari
gebetan, mau nggak dia jadi pacaran.
Satu minggu berlalu.
Dang dut... dang.. dut...
Jantungku
sampai bisa buat goyang, keringatku bercucuran. Pernah ngajak gebetan jalan
untuk pertama kali? Itu yang aku rasakan saat memasuki sekolah tempatku
mendaftar. Sebenarnya aku nggak begitu yakin dengan hasilnya.
Jeng jeng..... Alhamdulillah, aku
diterima di SMP itu. Pulang kerumah aku langsung teriak “EMAAAAK.... ANAKMU INI
DITERIMA MAAAAAK...” *salto lima kali* *cipokin followers cewe satu2*
Certiaku disaat duduk di Sekolah
Menengah Pertama akan lebih seru dan banyak kenangan. Jadi, ikuti terus di
posting berikutnya ya.
Eh,
kok udah kayak sinetron-sinetron yang nggak ada habisnya itu ya...

No comments:
Post a Comment