Dulu
aku masih cupu, masih lugu, suka makan brutu. Awal masuk SMP, begitu banyak hal
baru yang aku dapat. Tapi adaptasinya sulit banget, kayak pdkt sama cewek yang
udah punya pacar, dan pacarnya itu superman. Susah kan?
Baru minggu pertama masuk sekolah
aja aku udah jadi korban bully. Emang sih.. wajah aku yang mirip sama suneo
ketimpuk ee’ kebo ini kayak udah ada tulisannya dijidat “silahkan di-bully”.
Bahkan aku pernah berpikir untuk
pindah sekolah. Iya, pembullyan memang berdampak besar bagi perkembangan
psikologis-ku. Tapi untungnya aku cepat tertolong, karena aku sempat bercerita
kepada kedua orangtuaku, dan mereka juga cepat bertindak dengan melaporkan anak
yang membullyku ke wali kelasku. Ah.. sudah lah... masa-masa pertama masuk SMP
memang penuh dengan kepahitan.
Waktu berjalan begitu cepat... nggak
terasa aku udah kelas 9, dan akan menempuh ujian nasional. Walaupun udah kelas
9, dan pada waktu itu umurku udah 13 tahun. Tapi aku belum mimpi basah juga.
Dan suaraku masih seperti suara cewek kena radang tenggorokan. Aku juga belum
mengerti apasih cinta itu? Apasih pacaran itu? Yang aku tahu hanyalah A + B ≠
C. Aku hanya fokus pada ujian nasional.
SMP bagiku adalah Sekolah Masa
Penderitaan. Bagaimana tidak?! Saat pertama masuk aku udah jadi korban bully.
Dan dua bulan sebelum aku mengikuti ujian nasional aku harus rela kehilangan
orang yang paling menginspirasiku, yaitu ayahku sendiri. Aku sangat menyesal
dengan kepergian beliau, karena aku tidak ada disisinya pada saat-saat
terakhirnya. Alasanku tidak berada disana bukan karena aku sekolah, atupun
mengikuti les, tapi... aku ada di warnet untuk main Point Blank. Aku merasa
sangat bersalah. Ingin rasanya kuulangi waktu itu. Sempat terbersit juga
dibenakku untuk menjemput beliau, utuk meminta maaf. Yah... namanya juga anak
kecil, pikiranku saat itu masih pendek. Terjadi perang dingin di pikiranku. Apa
yang aku lakukan? Apakah aku anak yang durhaka? Apakah ayah sudah memaafkan
kesalahanku yang sering aku perbuat? Apa yang bisa aku lakukan tanpa ayah?!
Tuhaaaaaan.... cabutlah nyawaku ini, agar aku bisa berkumpul lagi dengan ayaku
Tuhaaaan! Tapi support dari orang-orang disekelilingku yang masih menyayangiku
menjadikanku pribadi yang dapat merelakan kepergian beliau. SHOW MUST GO ON
MAN! Cobaanku belum selesai sampai disitu. Sepuluh hari sebelum hari H ujian
nasional aku terserang penyakit DBD dan Tipes. Mungkinkah Tuhan masih ingin meliahat
bagaimana aku bangun dari cobaannya? Saat sakit aku sering menyalahkan Tuhan.
Apakah dengan kepergian ayahku tidak cukup?! Aku tahu ini salah, tapi aku
selalu berusaha berfikir positif saja. Mungkin dibalik semua ini akan ada masa
depan yang lebih indah.
Akhirnya aku boleh keluar dari rumah
sakit, dan itu sehari sebelum dilaksanakannya ujian nasional. Sepuluh hari itu
aku tidak membuka buku sedikit pun. Aku hanya pasrah, apa yang sudah aku
lakukan selama tiga tahun ini dengan penuh keringat pasti akan membuahkan hasil
yang memuaskan.
Ujian hari pertama sampai hari
terakhir alhamdulillah lancar tanpa halangan sedikitpun. Setelah ujian nasional
masih ada ujian sekolah dan ujian praktik. Yap... seperti halnya hidup, setelah
menyelesaikan ujian satu, masih ada ujian lainnya.
Tibalah disaat yang paling
ditunggu-tunggu, PENGUMUMAN KELULUSAN. Hari itu menjadi sangat angker. Rasanya
jantung berdetak 200 kali per detik. Satu detik terasa satu jam. Dan dimalam
hari sebelumnya, mata jadi seperti indomaret 24 jam, nggak mau ditutup.
Insomnia melanda.... tapi jam delapan malem udah molor~
Waktu itu pun datang. Berkat usahaku
selama ini dan do’a orang-orang yang menyayangiku. Aku pun lulus dengan nilai
yang memuaskan. Yah, walaupun nggak masuk sepuluh besar paralel. Tapi aku sudah
puas.
Ceritaku masih berlanjut di postingan berikutnya yang
berisi tetnang kehidupanku di masa putih abu-ab. Masa paling indah (katanya).
DON’T MISS IT :)))
No comments:
Post a Comment