ping fast  my blog, website, or RSS feed for Free Catatan Brutal: Pahlawan Tanpa Pasangan

Sunday, 10 November 2013

Pahlawan Tanpa Pasangan


“Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membuat secarik kain merah dan putih maka selama itu kita tidak akan mau menyerah kepada siapapun juga. Kita tunjukan bahwa kita ini benar-benar orang-orang yang ingin merdeka. Dan untuk kita saudara-saudara, lebih baik hancur lebur daipada tidak merdeka. Semboyan kita tetap “MERDEKA ATAU MATI”. ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR!!! MERDEKA!!!” 

Tadi itu merupakan penggalan pidato dari Bung Tomo yang mengguncangkan hati dan membakar semangat para pejuang yang gagah berani di Surabaya. Demi mempertahankan kemerdekaan negara ini, mereka rela meninggalkan keluarganya, pekerjaannya, bahkan gebetannya. Mereka rela berjuang!

Apakah kalian pernah berpikir, kalau pada saat itu ada seorang pahlawan muda yang sedang menjalani masa PDKT. Padahal PDKT-nya itu sudah berlangsung selama tiga bulan, memang dasar sang pahlawan muda ini pemalu dan belum berani mengungkapkan perasaannya kepada sang pujaan hati. Dan setelah tiga bulan lamanya itu dia memendam perasaannya, muncullah sebuah keberanian untuk menyatakan perasaan sayangnya.

Namun, disaat dia akan menyampaikan perasaannya. Datanglah hari dimana dia harus memilih sang pujaan hati atau bangsanya.

Seharian dia galau....

Guling-gulingan dikamar. Motek-motekin bunga mawar. Keramas sambil nangis. Seharian itu dia habiskan dengan penuh kegalauan.

“Kalau aku milih berjuang memertahankan kemerdekaan negara ini, lalu bagaimana dengan Uti? Syukur kalau aku masih dapat pulang ke rumah dalam keadaan sehat. Kalau tidak? Mati dalam keadaan jomblo itu hinaaaaa. Hina banget!” kata sang pahlwan muda dalam hati dengan keadaan galau.
Dia akhirnya telah memutuskan. Bahwa dia akan berjuang dengan seluruh tenaga dan tumpah darahnya untuk melawan para pengancam kemerdekaan Indonesia. Sebelum berangkat sang pahlawan muda berpamitan dengan gebetannya.

“Uti... aku berangkat dulu ya.. sambut dengan suka cita kepulanganku, walaupun hanya jasadku yang kembali.”

“Iya Jajad...” balas si Uti sambil mengusap air matanya yang bercucuran.

Dan.. itulah kata-kata terakhir yang diberikan sang pahlawan muda kepada gebetannya. Dia gugur saat menjalankan tugas, dia tertembak oleh tiga peluru. Satu di perut, satu di dada sebelah kiri, dan satu di selangkangan.

Tapi sang pahlawan muda ternyata telah meninggalkan sepucuk surat untuk gebetannya. Berikut isi suratnya


Untuk Uti yang cantik

Hai Uti...

Mungkin saat kau menemukan surat ini, kau juga pasti telah menemukan jasadku di medan perang. Kau tak perlu bersedih, karena aku disini sudah tenang. Disini ada banyak bidadari-bidadari yang cantik seperti dirimu. Hihihi....

Kamu ingat tidak saat kita pertama kali bertemu di Akademi Militer? Iya, saat kita pertama kali berkenalan. Disaat itu pula aku merasa nyaman bayanganku ada di kedua bola matamu. Jantungku berdetak terlalu kencang. Aku sudah jatuh cinta kepadamu pada pandangan pertama. Ditambah lagi tiga bulan ini kedekatan kita semakin bertambah. Kita sering menghabiskan waktu bersama.

Sudah ya... jangan sedih lagi. Aku hanya mau bilang, kalau aku sayang kamu. Meskipun kita telah berada di duniayang berbeda, tapi cintaku akan tetap abadi.


Untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah mendahului kita, apalagi para pahlawan muda yang kebetulan memiliki kisah seperti cerita diatas. Mari kita berdoa sejenak, semoga mereka diterima ditempat yang paling indah. Berdoa dipersilahkan.

Bagi para jomblo, mati dalam keadaan jomblo itu tidak sehina seperti yang kalian pikirkan. Kalian memang tidak punya pasangan, tapi kalian harus punya sesuatu untuk diperjuangkan. Apalah arti sebuah status “pacaran” kalau tidak merasakan kebahagiaan.

No comments:

Post a Comment