“Selama
banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membuat
secarik kain merah dan putih maka selama itu kita tidak akan mau menyerah
kepada siapapun juga. Kita tunjukan bahwa kita ini benar-benar orang-orang yang
ingin merdeka. Dan untuk kita saudara-saudara, lebih baik hancur lebur daipada
tidak merdeka. Semboyan kita tetap “MERDEKA ATAU MATI”. ALLAHU AKBAR, ALLAHU
AKBAR, ALLAHU AKBAR!!! MERDEKA!!!”
Tadi
itu merupakan penggalan pidato dari Bung Tomo yang mengguncangkan hati dan
membakar semangat para pejuang yang gagah berani di Surabaya. Demi
mempertahankan kemerdekaan negara ini, mereka rela meninggalkan keluarganya,
pekerjaannya, bahkan gebetannya. Mereka rela berjuang!
Apakah
kalian pernah berpikir, kalau pada saat itu ada seorang pahlawan muda yang
sedang menjalani masa PDKT. Padahal PDKT-nya itu sudah berlangsung selama tiga bulan,
memang dasar sang pahlawan muda ini pemalu dan belum berani mengungkapkan
perasaannya kepada sang pujaan hati. Dan setelah tiga bulan lamanya itu dia memendam
perasaannya, muncullah sebuah keberanian untuk menyatakan perasaan sayangnya.
Namun,
disaat dia akan menyampaikan perasaannya. Datanglah hari dimana dia harus
memilih sang pujaan hati atau bangsanya.
Seharian
dia galau....
Guling-gulingan
dikamar. Motek-motekin bunga mawar. Keramas sambil nangis. Seharian itu dia
habiskan dengan penuh kegalauan.
“Kalau
aku milih berjuang memertahankan kemerdekaan negara ini, lalu bagaimana dengan
Uti? Syukur kalau aku masih dapat pulang ke rumah dalam keadaan sehat. Kalau
tidak? Mati dalam keadaan jomblo itu hinaaaaa. Hina banget!” kata sang pahlwan
muda dalam hati dengan keadaan galau.
Dia
akhirnya telah memutuskan. Bahwa dia akan berjuang dengan seluruh tenaga dan
tumpah darahnya untuk melawan para pengancam kemerdekaan Indonesia. Sebelum
berangkat sang pahlawan muda berpamitan dengan gebetannya.
“Uti...
aku berangkat dulu ya.. sambut dengan suka cita kepulanganku, walaupun hanya
jasadku yang kembali.”
“Iya
Jajad...” balas si Uti sambil mengusap air matanya yang bercucuran.
Dan..
itulah kata-kata terakhir yang diberikan sang pahlawan muda kepada gebetannya.
Dia gugur saat menjalankan tugas, dia tertembak oleh tiga peluru. Satu di
perut, satu di dada sebelah kiri, dan satu di selangkangan.
Tapi
sang pahlawan muda ternyata telah meninggalkan sepucuk surat untuk gebetannya.
Berikut isi suratnya
Untuk Uti yang
cantik
Hai Uti...
Mungkin saat kau
menemukan surat ini, kau juga pasti telah menemukan jasadku di medan perang.
Kau tak perlu bersedih, karena aku disini sudah tenang. Disini ada banyak
bidadari-bidadari yang cantik seperti dirimu. Hihihi....
Kamu ingat tidak
saat kita pertama kali bertemu di Akademi Militer? Iya, saat kita pertama kali berkenalan.
Disaat itu pula aku merasa nyaman bayanganku ada di kedua bola matamu.
Jantungku berdetak terlalu kencang. Aku sudah jatuh cinta kepadamu pada
pandangan pertama. Ditambah lagi tiga bulan ini kedekatan kita semakin
bertambah. Kita sering menghabiskan waktu bersama.
Sudah ya... jangan
sedih lagi. Aku hanya mau bilang, kalau aku sayang kamu. Meskipun kita telah
berada di duniayang berbeda, tapi cintaku akan tetap abadi.
Untuk
mengenang jasa para pahlawan yang telah mendahului kita, apalagi para pahlawan
muda yang kebetulan memiliki kisah seperti cerita diatas. Mari kita berdoa
sejenak, semoga mereka diterima ditempat yang paling indah. Berdoa
dipersilahkan.
Bagi
para jomblo, mati dalam keadaan jomblo itu tidak sehina seperti yang kalian
pikirkan. Kalian memang tidak punya pasangan, tapi kalian harus punya sesuatu
untuk diperjuangkan. Apalah arti sebuah status “pacaran” kalau tidak merasakan
kebahagiaan.
No comments:
Post a Comment