Lemparan
batu dari salah satu perusuh pada tahun 1998 mengenai kepala Usep yang sedang
duduk santai menikmati secangkir kopi hitam di sebuah warung kopi yang masih
tetap buka di tengah-tengah kerusuhan itu. Kopi yang tadinya manis dan hitam
seperti kulit Usep tiba-tiba menjadi asin agak amis karena terciprat oleh darah
si penjual kopi yang juga terkena lemparan.
Tak tahu
harus bagaimana lagi, Usep kebingungan dengan kepala yang berlumuran darah. Sambil
celingukan dengan badan yang masih sempoyongan menahan rasa sakit di kepalanya,
dia mencari jalan keluar dari warung kopi yang suasananya menjadi sangat
brutal. Ketika Usep baru melangkah, dari arah sebaliknya terjatuh seorang pria
tionghoa berbadan besar menjerit kesakitan dan menahan kaki Usep hingga dia
terjatuh. Usep melihat kearah pria tionghoa itu yang ternyata sudah babak belur
dan penuh luka di sekujur tubuhnya. Usep yang hanya seorang remaja polos tidak
bisa berbuat apa-apa, tak disangka tiba-tiba jatuh air mata dari kedua bola
mata yang masih berlumuran darah. Dalam hati, Usep berdoa kepada yang maha
kuasa agar dirinya diselamatkan dari situasi yang kacau itu. Entah dari mana
datangnya beberapa detik kemudian terdengar suara dentuman yang sangat keras suara tembakan meriam, tapi samar-samar
seperti suara kentut ultraman.