ping fast  my blog, website, or RSS feed for Free Catatan Brutal: Kerusuhan 1998

Friday, 12 September 2014

Kerusuhan 1998


Lemparan batu dari salah satu perusuh pada tahun 1998 mengenai kepala Usep yang sedang duduk santai menikmati secangkir kopi hitam di sebuah warung kopi yang masih tetap buka di tengah-tengah kerusuhan itu. Kopi yang tadinya manis dan hitam seperti kulit Usep tiba-tiba menjadi asin agak amis karena terciprat oleh darah si penjual kopi yang juga terkena lemparan.

Tak tahu harus bagaimana lagi, Usep kebingungan dengan kepala yang berlumuran darah. Sambil celingukan dengan badan yang masih sempoyongan menahan rasa sakit di kepalanya, dia mencari jalan keluar dari warung kopi yang suasananya menjadi sangat brutal. Ketika Usep baru melangkah, dari arah sebaliknya terjatuh seorang pria tionghoa berbadan besar menjerit kesakitan dan menahan kaki Usep hingga dia terjatuh. Usep melihat kearah pria tionghoa itu yang ternyata sudah babak belur dan penuh luka di sekujur tubuhnya. Usep yang hanya seorang remaja polos tidak bisa berbuat apa-apa, tak disangka tiba-tiba jatuh air mata dari kedua bola mata yang masih berlumuran darah. Dalam hati, Usep berdoa kepada yang maha kuasa agar dirinya diselamatkan dari situasi yang kacau itu. Entah dari mana datangnya beberapa detik kemudian terdengar suara dentuman yang sangat keras  suara tembakan meriam, tapi samar-samar seperti suara kentut ultraman.


Sambil memicingkan mata karena silau dan banyak debu yang berterbangan disekitar Usep, dia melihat ada kebakaran yang cukup besar di seberang jalan. Di tengah-tengah kebakaran tersebut samar-samar terlihat bayangan besar, setelah Usep amati agak lama ternyata itu adalah sebuah becak. Tanpa berpikir panjang dia langsung berlari menuju bayangan becak tadi, berharap agar Usep bisa menyelamatkan dirinya dengan mengendarai becak itu.

Melewati para perusuh yang sedang sibuk merusak fasilitas umum yang ada. Usep berlagak seperti di film aksi garapan Hollywood. Gerakan sigap dan cepat dari kaki Usep berhasil membuatnya dapat melompati mobil jeep keluaran tahun 80-an yang terparkir di depan warug kopi. Langkah kaki yang masih menggebu-gebu meski agak sempoyongan berlari ke seberang jalan sambil menghindari lemparan batu, lemparan balok kayu, bahkan lemparan putri ayu.

Sampailah Usep di dekat becak yang tadi dilihatnya dari kejauhan. Masih terdengar jelas suara ribut dari para perusuh dan beberapa kali suara tembakan dari jauh. Begitu takut dan semangatnya, Usep langsung menaiki dan mengayuh becak dengan sekuat tenaga. Sialnya, roda belakang becak ternyata masih dirantai dengan tiang listrik, sehingga Usep terempar dan jatuh diatas jalan beraspal yang kerasnya seperti hati gebetan yang baru kenal.

Usep tersungkur ke jalan dengan posisi nungging seperti seekor ayam yang sedang mengais-ais makanan di tanah. Sehingga wajahnya menjadi penuh luka, dara dan kerikil. Belum juga si Usep bisa bangun, tiba-tiba terdengar hentakan sepatu dari satu pleton tentara yang sedang berlari ke arahnya untuk mengamankan wilayah tersebut. Tentara-tentara itu menembaki orang-orang disekitarnya tanpa pandang bulu dengan menggunakan senjata berisikan peluru karet. Menembakinya secara brutal satu persatu orang yang ada disitu tak terkecuali Usep yang masih pada posisi yang sama. Usep tertembak pada bagian lubang pantatnya.  Meskipun menggunakan peluru karet, tapi efeknya dapat menimbulkan rasa nyeri yang berkepanjangan. Melebihi rasa nyeri pada perut cewek yang sedang PMS, apalagi Usep yang tertembak tepat di lubang pantatya.


Karena ada tentara yang terus menembaki secara brutal, para perusuh yang belum tertembak menjadi panik dan berlarian kesana kemari berusaha menghindari tembakan yang menuju kearah mereka. Begitu paniknya mereka sampai tidak memperdulikan apa yang mereka tabrak dan injak. Baju Usep tercipta pola-pola abstrak bekas injakan para perusuh. Nyawanya sudah tidak dapat diselamatkan lagi. Usep meninggal dengan wajah yang penuh luka dan kerikil, tulang jari dan tulang rusuk yang patah, dan peluru karet yang masih bersarang di lubang pantatnya.

No comments:

Post a Comment