Lemparan
batu dari salah satu perusuh pada tahun 1998 mengenai kepala Usep yang sedang
duduk santai menikmati secangkir kopi hitam di sebuah warung kopi yang masih
tetap buka di tengah-tengah kerusuhan itu. Kopi yang tadinya manis dan hitam
seperti kulit Usep tiba-tiba menjadi asin agak amis karena terciprat oleh darah
si penjual kopi yang juga terkena lemparan.
Tak tahu
harus bagaimana lagi, Usep kebingungan dengan kepala yang berlumuran darah. Sambil
celingukan dengan badan yang masih sempoyongan menahan rasa sakit di kepalanya,
dia mencari jalan keluar dari warung kopi yang suasananya menjadi sangat
brutal. Ketika Usep baru melangkah, dari arah sebaliknya terjatuh seorang pria
tionghoa berbadan besar menjerit kesakitan dan menahan kaki Usep hingga dia
terjatuh. Usep melihat kearah pria tionghoa itu yang ternyata sudah babak belur
dan penuh luka di sekujur tubuhnya. Usep yang hanya seorang remaja polos tidak
bisa berbuat apa-apa, tak disangka tiba-tiba jatuh air mata dari kedua bola
mata yang masih berlumuran darah. Dalam hati, Usep berdoa kepada yang maha
kuasa agar dirinya diselamatkan dari situasi yang kacau itu. Entah dari mana
datangnya beberapa detik kemudian terdengar suara dentuman yang sangat keras suara tembakan meriam, tapi samar-samar
seperti suara kentut ultraman.
Sambil
memicingkan mata karena silau dan banyak debu yang berterbangan disekitar Usep,
dia melihat ada kebakaran yang cukup besar di seberang jalan. Di tengah-tengah
kebakaran tersebut samar-samar terlihat bayangan besar, setelah Usep amati agak
lama ternyata itu adalah sebuah becak. Tanpa berpikir panjang dia langsung
berlari menuju bayangan becak tadi, berharap agar Usep bisa menyelamatkan
dirinya dengan mengendarai becak itu.
Melewati
para perusuh yang sedang sibuk merusak fasilitas umum yang ada. Usep berlagak
seperti di film aksi garapan Hollywood. Gerakan sigap dan cepat dari kaki Usep
berhasil membuatnya dapat melompati mobil jeep keluaran tahun 80-an yang
terparkir di depan warug kopi. Langkah kaki yang masih menggebu-gebu meski agak
sempoyongan berlari ke seberang jalan sambil menghindari lemparan batu,
lemparan balok kayu, bahkan lemparan putri ayu.
Sampailah
Usep di dekat becak yang tadi dilihatnya dari kejauhan. Masih terdengar jelas
suara ribut dari para perusuh dan beberapa kali suara tembakan dari jauh.
Begitu takut dan semangatnya, Usep langsung menaiki dan mengayuh becak dengan
sekuat tenaga. Sialnya, roda belakang becak ternyata masih dirantai dengan
tiang listrik, sehingga Usep terempar dan jatuh diatas jalan beraspal yang
kerasnya seperti hati gebetan yang baru kenal.
Usep
tersungkur ke jalan dengan posisi nungging seperti seekor ayam yang sedang
mengais-ais makanan di tanah. Sehingga wajahnya menjadi penuh luka, dara dan
kerikil. Belum juga si Usep bisa bangun, tiba-tiba terdengar hentakan sepatu
dari satu pleton tentara yang sedang berlari ke arahnya untuk mengamankan
wilayah tersebut. Tentara-tentara itu menembaki orang-orang disekitarnya tanpa
pandang bulu dengan menggunakan senjata berisikan peluru karet. Menembakinya
secara brutal satu persatu orang yang ada disitu tak terkecuali Usep yang masih
pada posisi yang sama. Usep tertembak pada bagian lubang pantatnya. Meskipun menggunakan peluru karet, tapi
efeknya dapat menimbulkan rasa nyeri yang berkepanjangan. Melebihi rasa nyeri
pada perut cewek yang sedang PMS, apalagi Usep yang tertembak tepat di lubang
pantatya.
Karena
ada tentara yang terus menembaki secara brutal, para perusuh yang belum
tertembak menjadi panik dan berlarian kesana kemari berusaha menghindari
tembakan yang menuju kearah mereka. Begitu paniknya mereka sampai tidak
memperdulikan apa yang mereka tabrak dan injak. Baju Usep tercipta pola-pola
abstrak bekas injakan para perusuh. Nyawanya sudah tidak dapat diselamatkan
lagi. Usep meninggal dengan wajah yang penuh luka dan kerikil, tulang jari dan
tulang rusuk yang patah, dan peluru karet yang masih bersarang di lubang
pantatnya.

No comments:
Post a Comment