ping fast  my blog, website, or RSS feed for Free Catatan Brutal: Kenaikan Harga BBM Bersubsidi

Tuesday, 18 November 2014

Kenaikan Harga BBM Bersubsidi


Saya menulis artikel ini tepat pukul 22.31 dimana masyarakat Indonesia yang menurut saya kurang berpendidikan masih mengantri di SPBU terdekat dikarenakan tadi Presiden baru kita secara resmi telah mengumumkan bahwa besok tepat pukul 00.00 harga BBM bersubsidi dinaikan. Bensin menjadi Rp 8.500 dan solar menjadi Rp 7.000.

Saya sebenarnya bingung apa sih yang sbenarnya ada di pikiran rakyat Indonesia? Kalau misalkan harga BBM bersubsidi naik, dan detik-detik mendekati kenaikan BBM harus rela mengantri sebegitu panjangnya. Mungkin mereka lebih mementingkan uang daripada waktu berjam-jam yang digunakan untuk mengantri, padahal waktu itu bisa dimanfaatkan dengan sebaik mungki. Bisa untuk keluarga, untuk mencari uang tambahan, untuk beristirahat atau sebagainya.

Uang dapat dicari.

Kalau waktu? Waktu terus maju!

Tak ada yang lebih berharga dari waktu. Waktu yang mereka buang sia-sia demi uang yang tak seberapa. Tangki-tangki kendaraan mereka yang sudah terisi penuh, apakah itu kepuasan yang mereka inginkan? Toh kalau penggunaannya yang tidak dikurangi, itu juga akan sama saja. Bahkan lebih rugi.


Selain kaum yang tidak menghargai waktu, di Indonesia juga ada kaum yang namanya naiknya-harga-bbm-pasti-karena-kesalahan-presiden-yang-tidak-prorakyat. Kaum ini maunya enak sendiri. Selalu menuntut keadilan yang sebenarnya hanya dianggap adil oleh kaum mereka sendiri, tapi di sisi lain malah merugikan kaum lain. Mereka tak tahu dunia luar, hanya tahu apa yang mereka dengar, dan mereka lihat disekelilingnya.

Tak mau tahu sudah mendarah daging.

Jika disalahkan malah menyalahkan orang lain dengan alasan yang seadanya.

Seperti saat ini, banyak orang-orang yang mendukung kenaikan harga bbm bersubsidi, tapi lebih banyak lagi orang yang menolaknya. Alasannya banyak. Presiden pembohong, presiden tidak prorakyat, sampai yang tidak masuk akal, salah siapa milih dia buat jadi presiden.

Dari alasan-alasan tersebut sudah tercerminkan bahwa daya intelegensi mereka sebenarnya ada di bawah rata-rata.

Kata mereka presiden terpilih seorang pembohong, padahal jika kalian cermati pada saat dilakukan debat presiden telah dikatakan bahwa presiden terpilih saat ini jelas-jelas akan menaikan harga BBM. Tapi tidak sekedar mengurangi subsidi harga BBM, pasangan itu berkata bahwa mereka daripada uang negara digunakan untuk menyubsidi BBM, lebih baik uang itu digunakan untuk mensejahterkan rakyat dalam bidang lain seperti pendidikan, kesehatan, keamanan, dan lainnya. Tapi ada salah satu media masa yang menulis judul beritanya “JOKOWI menolak kenaiakan harga BBM.” Padahal hasil wawancara yang mereka lakukan dan jelas-jelas mereka tulis diberita itu adalah “Saya kira semua yang ditanya, inginnya harga BBM tidak naik.” Jika dicermati secara mendalam, apakah kalian menemukan kata kalau Jokowi menolak kenaikan harga BBM? Yang saya sayangkan dari media tersebut adalah, bahwa media tersebut sebenarnya sudah tahu bahwa rakyat Indonesia kalau disuguhi dengan berita macam itu hanya sekedar membaca judulnya, isinya masa bodoh. Rakyat Indonesia masih beranggapan bahwa judul mewakili isi. Dulu memang benar seperti itu. Tapi saya pikir pernyataan tersebut sekarang kurang tepat diterapkan lagi. Media-media sekarang lebih cerdas dan licik dalam menarik perhatian pembaca. Pembaca disini dalam artian orang yang benar-benar membaca isi berita, bukan hanya sekedar membaca judul berita.

Yah, memang itu bukan sepenuhnya kesalahan mereka. Tapi tuntutan hidup harusnya bisa diimbangi dengan kualitas kerja kita yang semakin meningkat. Kita harusnya mengambil hal positif dari kenaikan harga BBM ini. Dengan kenaikan harga BBM bisa meningkatkan semangat kita untuk belajar atau bekerja lebih giat untuk mencapai kesejahteraan dalam hidup di negara ini. Dengan kenaikan harga BBM kita akan berfikir lebih dari sekali untuk menggunakan kendaraan bermotor, hal ini akan berdampak baik pada lingkungan hidup dan keuangan. Sebenarnya banyak manfaat-manfaat yang bisa didapat dari kenaikan harga BBM bersubsidi, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Tidak perlu menyalahkan penguasa. Dimulai dari diri kita. Instropesksi diri kita terlebih dahulu. Berfikirlah lebih jernih. Berfikirlah lebih kreatif. Dan, KERJA!

No comments:

Post a Comment