Saya menulis artikel ini tepat pukul 22.31 dimana masyarakat
Indonesia yang menurut saya kurang berpendidikan masih mengantri di SPBU
terdekat dikarenakan tadi Presiden baru kita secara resmi telah mengumumkan
bahwa besok tepat pukul 00.00 harga BBM bersubsidi dinaikan. Bensin menjadi Rp
8.500 dan solar menjadi Rp 7.000.
Saya sebenarnya bingung apa sih yang sbenarnya ada di
pikiran rakyat Indonesia? Kalau misalkan harga BBM bersubsidi naik, dan
detik-detik mendekati kenaikan BBM harus rela mengantri sebegitu panjangnya.
Mungkin mereka lebih mementingkan uang daripada waktu berjam-jam yang digunakan
untuk mengantri, padahal waktu itu bisa dimanfaatkan dengan sebaik mungki. Bisa
untuk keluarga, untuk mencari uang tambahan, untuk beristirahat atau sebagainya.
Uang dapat dicari.
Kalau waktu? Waktu terus maju!
Tak ada yang lebih berharga dari waktu. Waktu yang mereka
buang sia-sia demi uang yang tak seberapa. Tangki-tangki kendaraan mereka yang
sudah terisi penuh, apakah itu kepuasan yang mereka inginkan? Toh kalau
penggunaannya yang tidak dikurangi, itu juga akan sama saja. Bahkan lebih rugi.
Selain kaum yang tidak menghargai waktu, di Indonesia juga
ada kaum yang namanya
naiknya-harga-bbm-pasti-karena-kesalahan-presiden-yang-tidak-prorakyat. Kaum
ini maunya enak sendiri. Selalu menuntut keadilan yang sebenarnya hanya
dianggap adil oleh kaum mereka sendiri, tapi di sisi lain malah merugikan kaum
lain. Mereka tak tahu dunia luar, hanya tahu apa yang mereka dengar, dan mereka
lihat disekelilingnya.
Tak mau tahu sudah mendarah daging.
Jika disalahkan malah menyalahkan orang lain dengan alasan
yang seadanya.
Seperti saat ini, banyak orang-orang yang mendukung kenaikan
harga bbm bersubsidi, tapi lebih banyak lagi orang yang menolaknya. Alasannya
banyak. Presiden pembohong, presiden tidak prorakyat, sampai yang tidak masuk
akal, salah siapa milih dia buat jadi presiden.
Dari alasan-alasan tersebut sudah tercerminkan bahwa daya
intelegensi mereka sebenarnya ada di bawah rata-rata.
Kata mereka presiden terpilih seorang pembohong, padahal
jika kalian cermati pada saat dilakukan debat presiden telah dikatakan bahwa
presiden terpilih saat ini jelas-jelas akan menaikan harga BBM. Tapi tidak
sekedar mengurangi subsidi harga BBM, pasangan itu berkata bahwa mereka
daripada uang negara digunakan untuk menyubsidi BBM, lebih baik uang itu
digunakan untuk mensejahterkan rakyat dalam bidang lain seperti pendidikan,
kesehatan, keamanan, dan lainnya. Tapi ada salah satu media masa yang menulis
judul beritanya “JOKOWI menolak kenaiakan harga BBM.” Padahal hasil wawancara
yang mereka lakukan dan jelas-jelas mereka tulis diberita itu adalah “Saya kira
semua yang ditanya, inginnya harga BBM tidak naik.” Jika dicermati secara
mendalam, apakah kalian menemukan kata kalau Jokowi menolak kenaikan harga BBM?
Yang saya sayangkan dari media tersebut adalah, bahwa media tersebut sebenarnya
sudah tahu bahwa rakyat Indonesia kalau disuguhi dengan berita macam itu hanya
sekedar membaca judulnya, isinya masa bodoh. Rakyat Indonesia masih beranggapan
bahwa judul mewakili isi. Dulu memang benar seperti itu. Tapi saya pikir
pernyataan tersebut sekarang kurang tepat diterapkan lagi. Media-media sekarang
lebih cerdas dan licik dalam menarik perhatian pembaca. Pembaca disini dalam
artian orang yang benar-benar membaca isi berita, bukan hanya sekedar membaca
judul berita.
Yah, memang itu bukan sepenuhnya kesalahan mereka. Tapi
tuntutan hidup harusnya bisa diimbangi dengan kualitas kerja kita yang semakin
meningkat. Kita harusnya mengambil hal positif dari kenaikan harga BBM ini.
Dengan kenaikan harga BBM bisa meningkatkan semangat kita untuk belajar atau
bekerja lebih giat untuk mencapai kesejahteraan dalam hidup di negara ini.
Dengan kenaikan harga BBM kita akan berfikir lebih dari sekali untuk
menggunakan kendaraan bermotor, hal ini akan berdampak baik pada lingkungan
hidup dan keuangan. Sebenarnya banyak manfaat-manfaat yang bisa didapat dari
kenaikan harga BBM bersubsidi, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Tidak
perlu menyalahkan penguasa. Dimulai dari diri kita. Instropesksi diri kita
terlebih dahulu. Berfikirlah lebih jernih. Berfikirlah lebih kreatif. Dan,
KERJA!
No comments:
Post a Comment