ping fast  my blog, website, or RSS feed for Free Catatan Brutal: Indonesia Negara Bermoral

Saturday, 27 February 2016

Indonesia Negara Bermoral

Liburan semester yang kelamaan justru bikin mahasiswa yang nggak punya inisiatif buat ngelakuin sesuatu yang lebih bermanfaat selain stalking medsos gebetan macem saya ini latihan jadi pengangguran. Di tengah-tengah stalking twitter gebetan, di pikiran saya tiba-tiba muncul sebuah ingatan tentang soal UAS kemarin.

Soal salah satu mata kuliah yang sebenarnya tidak wajib untuk diambil karena mata kuliah pilihan. Tapi sebagai mahasiswa yang super rajin, mata kuliah itu tetap saya ambil.

Kira-kira soalnya seperti ini

“Bagaimana cara menangkal etika atau budaya barat yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia?”


Saya agak lupa dengan perrtanyaannya, kalau salah sedikit atau banyak mohon dimaafkan. Setelah membaca pertanyaan di atas, pikiranku yang terisi dengan video bokep pengetahuan yang setengah-setengah ini langsung berasumsi. Apakah benar budaya timur khususnya budaya Indonesia dianggap lebih baik dan lebih bermoral? Siapa yang beranggapan seperti itu? Kita sendiri?

Kalau seperti itu berarti sah-sah saja kalau aku beranggapan seperti berikut

“Rumahku lebih indah dari pada rumah Ahmad Dhani.”
“Wajahku lebih ganteng dari pada Aliando.”
“Tititku lebih gede dari pada titit Ade Rai.”

Oke yang terakhir itu fakta bukan opini.

Itulah yang akan selalu muncul jika kita beranggapan bahwa milik kita adalah yang terbaik. Milik orang lain jauh lebih buruk dan tidak baik untuk kita. Padahal setelah saya baca-baca sedikit fakta mengenai budaya sex orang-orang barat yang dianggap kurang bermoral itu di tube8.com googel.com, ternyata hasilnya sangat mencengangkan. Berikut adalah sedikit hasil saya berselancar di dunia per-googel-an.

Negara barat atau eropa yang dianggap etikanya tidak sesuai dengan kita, dengan kata lain mereka tidak memiliki moral di mata kita justru memiliki tingkat pengidap HIV/AIDS yang lebih rendah dari pada kita. Menurut data kemenkes, sejak tahun 2005 sampai September 2015, terdapat kasus HIV sebanyak 184.929 yang didapat dari laporan layanan konseling dan tes HIV dengan jumlah kasus tertinggi di DKI Jakarta (38.464 kasus). Dan pada tahun 2014, the Joint United Nation Program on HIV/AIDS (UNAIDS) memberikan rapor merah kepada Indonesia sehubungan dengan penanggulagan HIV/AIDS. Pasien baru meningkat 47% sejak tahun 2005. Perlu diketahui, Indonesia adalah negara yang menduduki peringkat ketiga setelah RRC dan India. Dalam hal apa? Tentu saja bukan peringkat negara terbersih, bukan juga peringkat negara dengan kesemakmuran masyarakatnya, tapi peringkat negara yang memiliki jumlah penderita HIV terbanyak. Perlu bangga-kah kita dengan ini? Indonesia adalah negara yang beragama, dengan salah satu agamanya yang sangat melaknat tindakan-tindakan beresiko pada terjadinya penularan HIV/AIDS. Bahkan agama itu memiliki organisasi pembela garis keras yang bersikap radikal.


Kebebasan di Eropa seperti apa yang kalian maksud hingga kalian anti dengan mereka? Negara-negara di Eropa yang kalian anggap terlalu bebas justru memiliki peraturan tentang pembelian rokok yang sangat ketat. Sejauh ini negara-negara uni Eropa telah mengikuti Konvensi Kerja Pengadilan Tembakau (FCTC), yang mulai berlaku pada tahun 2005 dan mewajibkan mereka mengambil langkah dari waktu ke waktu untuk mengurangi rokok. Harga rokok di Eropa pun tidak semurah di Indonesia, di sana sebungkus rokok bisa mencapai harga 7.8 euro atau sekitar Rp 115.000,-. Bayangkan, bisa kaya mendadak kalau jualan rokok di sana. Tapi tidak semudah itu membawa rokok masuk ke sana, menurut peraturan bea cukai setempat paling banyak diperbolehka untuk membawa rokok hanya sebanyak 2 slop. Lewat dari itu, barang akan disita. Dibandingkan dengan di Indonesia, uang jajan anak play group saja sudah bisa untuk membeli sebatang rokok dan menghisapnya di mana saja sesuka hati.



Di negara-negara tidak bermoral itu memiliki tingkat korupsi yang jauh lebih rendah padahal mereka dianggap terlalu bebas. Lalu kebebasan seperti apa yang diberikan hingga masyarakat di sana sudah tidak berminat lagi untuk melakukan korupsi? Indonesia yang dianggap bermoral, berbudaya dan beragama justru memiliki angka korupsi yang tinggi, bahkan negara nomer 12 terkorup di Asia. Kebudayaan seperti ini yang dibanggakan?

Sampah dan pamflet yang bertuliskan kebersihan adalah sebagian dari iman berlomba-lomba untuk menampakan diri di jalanan negara yang berbudaya dan beragama ini. Terotoar, kebon, sungai, dan laut sudah menjadi saksi bahwa kebudayaan negeri kita adalah kebudayaan membuang sampah sembarangan. Padahal tak jarang didengar kalau kebersihan adalah sebagan dari iman. Loh, bukan kah Indonesia adalah negara yang beragama? Apakah hanya sekedar sebutan agama tanpa iman?



Mari kita pikirkan bersama, masih kita layak untuk menyebut mereka negara tidak bermoral dan bebas?

Apakah kita masih bangga menyebut Indonesia lebih bermoral?

Apakah kita benar-benar negara yang beragama?

Apakah budaya kita lebih baik daripada budaya kita?


Tak bisa dipungkiri bahwa bercermin memang lebih sulit dari pada berkata. Ya seperti kata-kata 
saya tadi yang lebih mudah untuk dituliskan dari pada diterapkan.

No comments:

Post a Comment