Liburan semester yang kelamaan
justru bikin mahasiswa yang nggak punya inisiatif buat ngelakuin sesuatu yang
lebih bermanfaat selain stalking medsos gebetan macem saya ini latihan jadi
pengangguran. Di tengah-tengah stalking twitter gebetan, di pikiran saya
tiba-tiba muncul sebuah ingatan tentang soal UAS kemarin.
Soal salah satu mata kuliah yang
sebenarnya tidak wajib untuk diambil karena mata kuliah pilihan. Tapi sebagai
mahasiswa yang super rajin, mata kuliah itu tetap saya ambil.
Kira-kira soalnya seperti ini
“Bagaimana cara menangkal etika atau budaya barat yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia?”
Saya agak lupa dengan
perrtanyaannya, kalau salah sedikit atau banyak mohon dimaafkan. Setelah membaca pertanyaan di
atas, pikiranku yang terisi dengan video bokep pengetahuan yang
setengah-setengah ini langsung berasumsi. Apakah benar budaya timur khususnya
budaya Indonesia dianggap lebih baik dan lebih bermoral? Siapa yang beranggapan
seperti itu? Kita sendiri?
Kalau seperti itu berarti sah-sah
saja kalau aku beranggapan seperti berikut
“Rumahku lebih indah dari pada rumah Ahmad Dhani.”
“Wajahku lebih ganteng dari pada Aliando.”“Tititku lebih gede dari pada titit Ade Rai.”
Oke yang terakhir itu fakta bukan opini.
Itulah yang akan selalu muncul jika kita beranggapan bahwa
milik kita adalah yang terbaik. Milik orang lain jauh lebih buruk dan tidak
baik untuk kita. Padahal setelah saya baca-baca sedikit fakta mengenai budaya
sex orang-orang barat yang dianggap kurang bermoral itu di tube8.com
googel.com, ternyata hasilnya sangat mencengangkan. Berikut adalah sedikit
hasil saya berselancar di dunia per-googel-an.
Negara
barat atau eropa yang dianggap etikanya tidak sesuai dengan kita, dengan kata
lain mereka tidak memiliki moral di mata kita justru memiliki tingkat pengidap
HIV/AIDS yang lebih rendah dari pada kita. Menurut data kemenkes, sejak tahun 2005
sampai September 2015, terdapat kasus HIV sebanyak 184.929 yang didapat dari
laporan layanan konseling dan tes HIV dengan jumlah kasus tertinggi di DKI
Jakarta (38.464 kasus). Dan pada tahun 2014, the Joint United Nation Program on
HIV/AIDS (UNAIDS) memberikan rapor merah kepada Indonesia sehubungan dengan
penanggulagan HIV/AIDS. Pasien baru meningkat 47% sejak tahun 2005. Perlu
diketahui, Indonesia adalah negara yang menduduki peringkat ketiga setelah RRC
dan India. Dalam hal apa? Tentu saja bukan peringkat negara
terbersih, bukan juga peringkat negara dengan kesemakmuran masyarakatnya, tapi
peringkat negara yang memiliki jumlah penderita HIV terbanyak. Perlu bangga-kah kita dengan ini? Indonesia adalah negara yang beragama,
dengan salah satu agamanya yang sangat melaknat tindakan-tindakan beresiko pada
terjadinya penularan HIV/AIDS. Bahkan agama itu memiliki organisasi pembela
garis keras yang bersikap radikal.
Sampah dan pamflet yang bertuliskan kebersihan adalah sebagian dari iman berlomba-lomba untuk menampakan diri di jalanan negara yang berbudaya dan beragama ini. Terotoar, kebon, sungai, dan laut sudah menjadi saksi bahwa kebudayaan negeri kita adalah kebudayaan membuang sampah sembarangan. Padahal tak jarang didengar kalau kebersihan adalah sebagan dari iman. Loh, bukan kah Indonesia adalah negara yang beragama? Apakah hanya sekedar sebutan agama tanpa iman?
Mari kita pikirkan bersama, masih
kita layak untuk menyebut mereka negara tidak bermoral dan bebas?
Apakah kita masih bangga menyebut
Indonesia lebih bermoral?
Apakah kita benar-benar negara
yang beragama?
Apakah budaya kita lebih baik
daripada budaya kita?
Tak bisa dipungkiri bahwa
bercermin memang lebih sulit dari pada berkata. Ya seperti kata-kata
saya tadi
yang lebih mudah untuk dituliskan dari pada diterapkan.
No comments:
Post a Comment