Kadang hal yang diharapkan berbenturan dengan kenyataan. Orang
menganggapnya sebagai takdir. Di sitiulah perasaan bermakna, salah
satunya adalah cinta. Apa yang dialami Ali memang biasa, terjadi pada
manusia umumnya. Tetapi ini menjadi luar biasa, ketika ia merasa bahwa
simpatinya sebagaimana pungguk merindukan bulan.Sudah hamper 1 tahun ia
memendam seribu rasa yang membuat jantungnya berdebar kencang saat
melihat sang pujaan hatinya.
“Kita pilih duduk di sini
aja. Ayo dong ceritain gebetan barumu,” tiba-tiba terdengan suara serak
yang mengusik lamunan Ali.“Iya... Mel, mumpung kita ngumpul nih,” jawab
teman Melinda.“Masak lo main rahasiaan sama temen sendiri,” tutur
temannya lagi.Ali mendadak gugup. Nggak salah lagi itu Melinda. Melinda
cewek yang sangat dikagumi para cowok-cowok di sekolah.Ali nyaris nggak
bergerak. Mneyadari cowok tampan yang sedang ditaksirnya itu ada di meja
belakangnya. Saat sedang barengan dengan teman-teman aja Ali sudah
nervous .... apalagi sekarang ia sedang sendirian. Tapi untuk yang satu
ini, rasa ingin tahunya jauh lebih besar. Dan apa tadi? Mereka lagi
ngomong soal gebetannya Melinda. “Wah..... Wah....jadi bener nih, dia
tinggal di jalan Tumbuhan?” tanya teman Melinda.Deg, Ali nyaris
tersentak. Bukankah itu jalan tempat ia tinggal? Jalan itukan kecil,
jadi ia kenal hampir semua penghuninya. Kayaknya nggak ada yang seumuran
dia, rata-rata sudah kuliah dan kerja. Rasa ingin tahunya semakin
memuncak.“Iya, anak kelas satu juga. aku memang naksir dia. Soalnya dia
ganteng banget, pintar dan baik. Pasti dong banyak saingannya. Makanya
aku jaga jarak biar dia penasaran,” suara Melinda terdengar
riang.Jantung Ali berdegup kencang. Ia semakin yakin , selain dia nggak
ada anak kelas satu SMA tinggal di jalan itu. Kalau masalah kecerdasan
otak, Ali memang selalu jadi juara satu sejak cawu pertama. Semuanya
klop. Mungkin yang dimaksud Melinda itu dirinya?.“Wah, gadis satu ini
sudah berketuk lutut. Terus kapan dong kamu pdkt sama dia?” desak
temannya. “Oh my god,” Ali nyaris menahan napas. “Eh, ngomong-ngomong
siapa namanya?” tanya temannya lagi. “Ali,” jawab Melinda. Kali ini Ali
nyaris nggak mampu menahan diri. Ingin rasanya ia melompat dan
berteriak, kalau saja nggak ingat di mana dia berada sekarang. Ini
benar-benar keajaiban. Melinda naksir dia. Berita ini wajib diceritakan
pada sohib-sohibnya.
Pukul setengah tujuh malam, semua
persiapan sudah sempurna. Sekarang Melinda naksir dia. Primadona sekolah
itu menyukai cowok biasa seperti dia. Ali bernyanyi bahagia.
“Kamu
nggak sedang melamun Li?” kata Ilham sambil terkikik. “Iya Li,
jangan-jangan itu cuma halusinasi aja,” timpal Shali. Ali pura-pura
merengut sambil berucap “Pendengaranku masih normal dan aku nggak
bakalan cerita kalau tahu reaksi kalian begini”. “Bukan begitu Li, Kalau
benar Melinda naksir kamu, kok bisa tenang-tenang aja sih?” kata Ilham
dan Shali. Runo mencoba menengahi. “Kan Melinda sendiri yang bilang dia
sengaja jaga jarak soalnya malu. Udah deh, pokoknya mulai besok akan
bakal jadi cowok paling bahagia di dunia,” ujar Ali tersenyum bahagia.
Keesokan harinya, Ali pergi ke toko bunga untuk membeli mawar merah
yang akan digunakan untuk menembak Melinda nanti malam. Setelah bulan
bersinar Ali yang sudah berpakaian rapi dan memakai minyak wangi. Dia
membulatkan tekatnya berangkat ke rumah Melinda untuk menyatakan
cintanya dengan hati yang berdebar-debar. Tibanya di rumah Melinda dia
melihat Melinda dengan seorang cowok tampan. Mereka terlihat sangat
akrab, “Ali sebenarnya aku suka sama kamu” kata Melinda malu-malu kepada
cowok yang sedang bersamanya.
Setelah Ali mendengarkan percakapan
Melinda dengan cowok yang namanya juga Ali, dia langsung pulang sengan
hati yang hancur seperti di ledakan dengan 10 megaton TNT. Dan Ali jadi
malu sama teman-temannya karena Ali yang dimaksud Melinda bukan dirinya.
Sepulangnya
Ali dirumah dia langsung di ajak orang tuanya makan diluar. “Oya…. Ali.
Ibu lupa cerita tentang cucunya Bu Lia, padahal sudah sebulan lho…..
Kapan- kapan kamu main ke sana ya? ” tiba-tiba Ibunya bercerita. Ali
Cuma mengangguk tanpa semmangat.
Ketika melewati rumah Bu Lia, Ali
melihat cowok yang ada di rumah Melinda semalam. Ali bertanya kepada
Ibunya “Siapa anak itu Bu? Kenapa masuk ke rumah Bu Lia?” “Oh dia itu
cucunya Bu Lia namanya sama dengan kamu… Ali.” “Wah… ternyata dia
cucunya Bu Lia, kalau bukan mungkin dia sudah babak belur.” Kata Ali
dalam hati.
No comments:
Post a Comment