ping fast  my blog, website, or RSS feed for Free Catatan Brutal: Pungguk Merindukan Bulan

Sunday, 1 April 2012

Pungguk Merindukan Bulan

          Kadang hal yang diharapkan berbenturan dengan kenyataan. Orang menganggapnya sebagai takdir. Di sitiulah perasaan bermakna, salah satunya adalah cinta. Apa yang dialami Ali memang biasa, terjadi pada manusia umumnya. Tetapi ini menjadi luar biasa, ketika ia merasa bahwa simpatinya sebagaimana pungguk merindukan bulan.Sudah hamper 1 tahun ia memendam seribu rasa yang membuat jantungnya berdebar kencang saat melihat sang pujaan hatinya.
         “Kita pilih duduk di sini aja. Ayo dong ceritain gebetan barumu,” tiba-tiba terdengan suara serak yang mengusik lamunan Ali.“Iya... Mel, mumpung kita ngumpul nih,” jawab teman Melinda.“Masak lo main rahasiaan sama temen sendiri,” tutur temannya lagi.Ali mendadak gugup. Nggak salah lagi itu Melinda. Melinda cewek yang sangat dikagumi para cowok-cowok di sekolah.Ali nyaris nggak bergerak. Mneyadari cowok tampan yang sedang ditaksirnya itu ada di meja belakangnya. Saat sedang barengan dengan teman-teman aja Ali sudah nervous .... apalagi sekarang ia sedang sendirian. Tapi untuk yang satu ini, rasa ingin tahunya jauh lebih besar. Dan apa tadi? Mereka lagi ngomong soal gebetannya Melinda. “Wah..... Wah....jadi bener nih, dia tinggal di jalan Tumbuhan?” tanya teman Melinda.Deg, Ali nyaris tersentak. Bukankah itu jalan tempat ia tinggal? Jalan itukan kecil, jadi ia kenal hampir semua penghuninya. Kayaknya nggak ada yang seumuran dia, rata-rata sudah kuliah dan kerja. Rasa ingin tahunya semakin memuncak.“Iya, anak kelas satu juga. aku memang naksir dia. Soalnya dia ganteng banget, pintar dan baik. Pasti dong banyak saingannya. Makanya aku jaga jarak biar dia penasaran,” suara Melinda terdengar riang.Jantung Ali berdegup kencang. Ia semakin yakin , selain dia nggak ada anak kelas satu SMA tinggal di jalan itu. Kalau masalah kecerdasan otak, Ali memang selalu jadi juara satu sejak cawu pertama. Semuanya klop. Mungkin yang dimaksud Melinda itu dirinya?.“Wah, gadis satu ini sudah berketuk lutut. Terus kapan dong kamu pdkt sama dia?” desak temannya. “Oh my god,” Ali nyaris menahan napas. “Eh, ngomong-ngomong siapa namanya?” tanya temannya lagi. “Ali,” jawab Melinda. Kali ini Ali nyaris nggak mampu menahan diri. Ingin rasanya ia melompat dan berteriak, kalau saja nggak ingat di mana dia berada sekarang. Ini benar-benar keajaiban. Melinda naksir dia. Berita ini wajib diceritakan pada sohib-sohibnya.

      Pukul setengah tujuh malam, semua persiapan sudah sempurna. Sekarang Melinda naksir dia. Primadona sekolah itu menyukai cowok biasa seperti dia. Ali bernyanyi bahagia.
“Kamu nggak sedang melamun Li?” kata Ilham sambil terkikik. “Iya Li, jangan-jangan itu cuma halusinasi aja,” timpal Shali. Ali pura-pura merengut sambil berucap “Pendengaranku masih normal dan aku nggak bakalan cerita kalau tahu reaksi kalian begini”. “Bukan begitu Li, Kalau benar Melinda naksir kamu, kok bisa tenang-tenang aja sih?” kata Ilham dan Shali. Runo mencoba menengahi. “Kan Melinda sendiri yang bilang dia sengaja jaga jarak soalnya malu. Udah deh, pokoknya mulai besok akan bakal jadi cowok paling bahagia di dunia,” ujar Ali tersenyum bahagia.
         Keesokan harinya, Ali pergi ke toko bunga untuk membeli mawar merah yang akan digunakan untuk menembak Melinda nanti malam. Setelah bulan bersinar Ali yang sudah berpakaian rapi dan memakai minyak wangi. Dia membulatkan tekatnya berangkat ke rumah Melinda untuk menyatakan cintanya dengan hati yang berdebar-debar. Tibanya di rumah Melinda dia melihat Melinda dengan seorang cowok tampan. Mereka terlihat sangat akrab, “Ali sebenarnya aku suka sama kamu” kata Melinda malu-malu kepada cowok yang sedang bersamanya.
        Setelah Ali mendengarkan percakapan Melinda dengan cowok yang namanya juga Ali, dia langsung pulang sengan hati yang hancur seperti di ledakan dengan 10 megaton TNT. Dan Ali jadi malu sama teman-temannya karena Ali yang dimaksud Melinda bukan dirinya.
          Sepulangnya Ali dirumah dia langsung di ajak orang tuanya makan diluar. “Oya…. Ali. Ibu lupa cerita tentang cucunya Bu Lia, padahal sudah sebulan lho….. Kapan- kapan kamu main ke sana ya? ” tiba-tiba Ibunya bercerita. Ali Cuma mengangguk tanpa semmangat.
         Ketika melewati rumah Bu Lia, Ali melihat cowok yang ada di rumah Melinda semalam. Ali bertanya kepada Ibunya “Siapa anak itu Bu? Kenapa masuk ke rumah Bu Lia?” “Oh dia itu cucunya Bu Lia namanya sama dengan kamu… Ali.” “Wah… ternyata dia cucunya Bu Lia, kalau bukan mungkin dia sudah babak belur.” Kata Ali dalam hati.

No comments:

Post a Comment