Di dunia ini kita sebagai manusia tidak tinggal
sendiri, masih ada hewan, tumbuhan, dan mantan yang selalu membayang-bayangi.
Biasanya gw selalu cerita tentang kegiatan Sehari-hari gw yang emang nggak
penting buat dibaca. Tapi pada postingan kali ini gw nggak main-main, dan nggak
asal nulis. Gw telah melakukan research secara mendalam sampai bagian terdalam
dari celana dalam dan secara mendetail ke bagian pentil (pentil disini bukan
pentil yang ada dipikiran kalian, tapi pentil yang itu) terkecil sekalipun.
Baikah.
Sejak seminggu yang lalu dari dipostingnya tulisan
ini, gw telah meneliti kehidupan seekor semut. Tapi semut nggak punya ekor,
ganti sebutir aja deh ya...
Jadi gini, seminggu ini gw memata-matai kehidupan
sebutir semut yang gw kasih nama tetet. Tetet ini adalah sebutir semut jenis
apa gw nggak tahu. Tapi setelah melihat kesehariannya gw jadi tahu kalo dia itu
semut jenis pekerja keras, sehat, kuat, hemat, cermat, dan bersahaja.
Pada hari kedua pengamatan gw langsung tahu bahwa si
tetet ini semut yang sopan, setiap bertemu dengan semut lain yang bahkan belum
dia kenal selalu dia sapa, dan salami.
Hingga pada suatu ketika si tetet sedang mengangkat
jemurannya. Tiba-tiba dia melihat sesosok siluet semut betina yang menutupi
matahari bagaikan gerhana yang membentukan lekukan-lekukan seksi (seksi disini
bagi semut ya.. ini bukan blog tentang cerita dewasa, jangan berharap lebh).
Dengan tatapan kosong dan pikiran yang terbang entah kemana si tetet melongo
seperti seekor serigala yang sedang kelaparan lalu melihat ada daging babi yang
penuh dengan lemak ada di hadapannya. Angin semilir menerbangkan rambut panjang
semut betina itu hingga terurai indah macem model iklan kondom shampo.
Jantung tetet berdetak sangat cepat, dan bertambah cepat ketika semut betina
itu semakin mendekat dan mendekat sampai ada tepat dihadapan tetet.
“dertakotekoterik...” kata si semut betina. Kalo
diterjemahkan ke bahasa Indonesia jadi “hai semut jantan...”
“ciokolopokidipiko..” jawab tetet dengan gugup. Gw terjemahin
jadi “hai juga cantik...”
Kalo di ceritain percakapan mereka berdua kayaknya
bakal makan waktu. Padahal gw lebih suka makan rendang. Jadi intinya mereka
berkenalan, dan si tetet jatuh hati kepadanya. Si semut betina yang bernama
titik.
Si tetet tiap malam, pagi, siang, sore selalu
melamunkan si titik. Tetet ingin tahu gimana kabar titik, tapi tahu sendiri
lah... emangnya ada hape yang seukuran semut? Pengen ngucapin “ceyamadht bhoboq
eaa..” aja harus melewati dua gunung dan satu lembah terlebih dahulu. Betapa
menderitanya tetet :(
Karena gw kasian lihat tetet yang kebanyakan
melamun. Akhrinya gw bantu dia buat ketemu sama titik. Gimana caranya? Nggak
usah ditanya. Rumit.
Mereka gw pertemukan di sebuah bukit yang indah,
diiringi dengan kicauan burung cucak rowo yang beriringan. Suasana langit yang
tidak terlalu gelap dan tidak terlalu panas. Pas pokoknya buat mereka berduaan.
Kurang baik gimana lagi coba gw siapin tempat yang romantis dan tidak lupa gw
kasih mereka berdua sepersepuluh sendok teh gula untuk menemani mereka berdua.
Dan.....
Beberapa saat kemudian si tetet mulai mengeluarkan
gombalan-gombalan jijiknya, mulai dari bapak kamu – bapak kamuan, sampai yang
gw rasa kalian nggak perlu tahu dia kelurakan semua. Hingga pada akhir acara,
tetet mulai serius. Dengan hidungnya yang mulai kembang kempis, mata memerah,
darah bercucuran dari ketujuh lubang yang ada di tubuhnya, sampai antenanya
yang tiba-tiba rontok.Tetet mulai mengungkapkan isi hatinya kepada titik.
Gw mulai berfantasi, kalau akhirnya si tetet sama si
titik beneran kawin. Lalu siapa nama anaknya? Kalo cewek TETEK? Dan kalo cowok
TITIT?!
Karena gw orangnya gampang cemas melebihi orang yang
make ganja, tanpa pikir panjang gw langsung mengambil keputusan sepihak.
GW INJEK MEREKA!
Bukannya gw kejam, tapi demi anaknya kelak yang akan
mereka beri nama tetek / titit.
Demikianlah hasil research gw selama seminggu
tentang semut. Moral value yang bisa diambil dari cerita diatas adalah walaupun
kamu kecil tapi punyamu pasti akan jadi besar juga.
SEKIAN. BYE....
No comments:
Post a Comment