Sesuai judulnya, jadi postingan kali ini akan dibahas kelanjutan cerita jalan-jalan saya ke Gunung Kidul, Jogja. Bagi yang belum sempat baca cerita sebelumnya, kamu bisa buka instagram lalu follow akunku @mahaishis terus balik lagi ke blog ini, klik link di bawah ini.
Gimana postingan saya yang
pertama? Bagus ngga? Perlu saya ceritain ulang biar kek comic 8 ngga?
Oke, ngga usah ya. Hal itu cuma
ganggu aja. Padahal ini isi blognya ganggu semua, ngga ada yang penting.
Perjalanan saya ke Gunung Kidul
dari kawasan UNY kira-kira dimulai pukul 22.00 WIB. Bagi yang sudah tahu bagaimana
jalur yang akan kami lewati pasti akan berdecak kagum.
IYA! KAMI MEMANG PANTAS UNTUK
DIKAGUMI.
![]() |
| jalur naga dari GOR UNY ke Pantai Siung, Gunung Kidul, Jogja |
Perjalanan sejauh itu kami tempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam. Keadaan jalan yang sepi, ditemani suara jangkrik dan serangga-serangga lain yang terdengar samar-samar karena kami melaju dengan kecepatan rata-rata di atas 70 km/jam.
Dengan kecepatan kami berkendara
yang bisa dibilang ngga begitu pelan, dan rute jalan yang berkelok-kelok
ditambah ngga ada penerangan jalan sama sekali. Dalam keadaan itu kami tak malu
utuk dibilang menghantarkan nyawa kami untuk penunggu jalan itu. Terjadi
kesalahan sedikit saja bisa menabrak pohon, terperosok ke jurang sampai jasad
kami tak bisa diketemukan.
Formasi yang kami gunakan itu
bukannya tanpa alasan, tapi hal itu kami pikirkan secara matang terlebih
dahulu. Mari saya jelaskan secara rinci.
Jadi item-item yang mirip tai
kambing itu saya gambarkan sebagai motor kami. Dengan urutan nomer 1 yang
paling depan, diikuti nomer 2,3 dan 4. Nomer 1 motor jenis Honda CB 150R, lalu
nomer 2 Yamaha Mio, diikuti motor jenis Jupiter MX, dan yang terakhir Honda
Supra X. Kali ini Yamaha memang bukan menjadi yang terdepan.
Alasan kenapa nomer 1 ditempati oleh Honda CB 150R yaitu karena motor ini memiliki lampu sorot paling terang diantara motor-motor yang lain, sangat tepat untuk membuka jalan yang gelap gulita. Kemudian motor ini dikendalikan oleh seorang pengendara yang sudah jatuh bangun menghadap jalanan. PERFECT.
Kemudian kami memilih motor Yamaha Mio karena kebetulan lampu sorot motor ini nyalanya ngga normal. Cahaya yang disorotkan kurang kuat untuk menembus jalan tanpa penerangan, jadi kami memberikan posisi kedua kepada motor Yamaha Mio.
Selanjutnya kami menempatkan Motor Honda Supra X pada posisi terakhir karena pengendara motor ini sudah tahu jalan ke tujuan kami dan yang paling bisa bertahan hidup, jadi jika dia tertinggal ngga perlu khawatir dimakan zombie atau apalah itu. Kami percaya dia bisa bertahan hidup dalam keadaan apa aja.
Bukannya saya lupa tapi saya sengaja menjelaskan posisi ketiga ini karena posisi ketiga sangat sepesial. Posisi ketiga ini ditempati oleh motor Yamaha Jupiter MX da saya yang mengendalikan mesin beringan tersebut. Kenapa saya memilih nomer tiga dalam formasi ini karena menurut saya posisi ketiga adalah posisi paling aman diantara yang lainnya. Bayangkan jika motor 1 salah jalan lalu terjun ke jurang, pasti nomer 2 akan ikut terjun juga karena tidak ada waktu untuk mengerem. Lalu jika tertinggal pun saya masih aman karena masih ada satu motor lagi dibelakang yang tahu jalannya. Kalau ada zombie yang mengejar kami? Tentu saja motor yang paling belakang menjadi tumbalnya.
Mungkin cukup sekian dulu cerita tentang jalan-jalanku ke Gunung Kidul. Tapi tenang saja, postingan ini akan berlanjut ke postingan berikutnya. Semoga saja saya ngga share 7 postingan dengan judul yang sama kek sinetron tersanjung.
Oh iya saya juga mau minta saran,
kalau menurut kamu mending saya membuat satu cerita yang panjang sekali jadi
atau bersambung-sambung seperti sekarang ini? Saran kaian bisa dituliskan di
kolom komen. Terima kasih!



Wah cerita yang menarik!
ReplyDeletemakasih kak, semoga membuat hari kamu lebih berwarna :)
Delete