Hanya ada satu sumber api yang
terpancar di pantai itu. Angin yang lumayan kencang juga menambah rangsangan
kepada bulu kuduk untuk berdiri. Selain saya emang lagi kebelet poop juga sih.
Suasana pantai Siung malam itu
begitu tenang, sesampainya di sana kami langsung mendirikan tenda dengan
meminimalisir suara tentunya. Takutnya kalau kami mengeluarkan suara yang
berisik bisa mengganggu penunggu sana yang lagi ena-ena.
Tips dari saya kalau kamu mau
camping juga di pantai ini, lebih baik kalo kamu bawa kayu bakar terus barbekiuan
(eh tulisannya udah bener belom?). Saya jamin bakal hacep banget kalo di pantai
Siung bakar-bakaran sambil nyanyi-nyanyi, bareng pasangannya masing-masing,
kalo kedinginan tinggal dusel-dusel manja. Beuh.
Kalau kamu camping di pantai,
kamu ngga akan ketemu sama kebun teh, kebun kopi, salju, dan lain sebagainya.
Ya iyalah.
Mata udah udah kek lampu yang ada
di angkringan, udah ngga bisa liat sekitar dengan jelas. Memejamkan mata
sejenak sambil membayanagkan besok pagi langsung disapa matahari saat membuka
tenda.
Dan akhirnya pagi pun tiba, suara
angin dan ombak dari semalam agak mengganggu pendengaran dan sirkulasi angin di
tubuh sehingga bukan sapaan pagi yang muncul, tapi suara kentut yang merdu
bagaikan terompet tahun baru menyambut pagi itu.
Ekspektasi yang semalam sudah
dibangun sebegitu tingginya, runtuh dalam sekejap saat menyadari bahwa pantai
ini dikelilingi bukit-bukit karang yang tinggi sehingga sunrise hanya menjadi
sebuah kemustahilan pagi itu.
Pantai selanjutnya yang kami
kunjungi adalah pantai WEDI OMBO. Dari namanya dapat dilihat bahwa pantai ini
memiliki pasir yang luas atau wedi ombo (dalam bahasa jawa). Itu ekspektasi
kami berikutnya yang akan diinjak-injak lagi dengan kenyataan yang ada.
“Apalah arti sebuah nama”
Pemberi nama pantai ini mungkin
penganut garis keras quote tersebut. Pantai wediombo tidak memiliki pasir yang
luas seperti gurun sahara, bahkan untuk menyaingi luas pasir di pantai Siung
pun ngga sanggup. Pada kenyataannya pantai Wediombo didominasi oleh bebatuan
karang, banyak orang
yang memancing di karang-karang pantai.
Satu hal yang perlu diwaspadai di
pantai ini adalah kalian harus berhati-hati saat melangkah di batuan karang
pantai Wedi ombo karena terdapat banya bulu babi. Kalau kamu ngga sengaja
mencumbu kakimu dengan bulu babi ini efeknya bisa bikin demam.
Kalau kamu beruntung, kamu bisa
bertemu dengan cewek-cewek yang asik bermain air hingga lupa memperhatikan
sekeliling mereka dan itu adalah saat yang paling tepat untuk kalian para predator mengamati mangsa. Mangsa
lengah dikit, minimal belahan tetek sama pentil njeplak didapat.
Sebetulnya masih banyak sekali
pantai-pantai di Jogja yang masih bisa dikupas tuntas. Tapi karena tulisan yang
sedikit ini paling juga ngga ada yang baca, cukup sekian dulu ya.
BYE!
Pantai pantai dah lama gak kesana ke pantai di mana aja kalau udah main di pantai rasanya lupa waktu juga. Baru ngeh kalau di pantai berbatu karang banyak bulu babinya padahal biasa aja jalan di antara batu karang cuma cukup hati hati karena licin
ReplyDeleteada bulu babinya kak.. tapi pd ngumpet di sela-sela batu karang
Deletenice artikel gan...
ReplyDeleteMantap juga ni pantai
ReplyDeleteWew bagus nih buat rekomendasi. Thanks min :D
ReplyDeletejadi pengen kesana gan :o
ReplyDeleteati ati bulu babii
ReplyDeletejadi pengen ke pantai nih ahh.. thank gan sharenya :)
ReplyDeletekalo ke pantai bawa makanan biar ngga makanin pasir
Deletenice gan.. btw kalo ke pantai cuman mau ngeliat ceweknya dosa gak yahh.. wkwk :D
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteAku pernah lihat bulu babi ..., tapi bukan di pantai Wedi Ombo.
ReplyDeleteNgelihatnya nyangkut di jala nelayan di pantai Siung.
Jalanya ditenggelamkan sekian lama, lalu diambil lagi sama nelayan yang berani banget ..., karena posisi jala ditenggelamkan nyaris ke tengah laut.
Lalu jala diseret ke batu karang, bulu babi ditimpuk pake batu buat matahin duri2nya.
Ternyata bulu babi banyak nyangkut dijalanya.